Netanyahu Masih Berkuasa, Israel Belum Renungi tragedi 7 Oktober
Tiga tahun setelah serangan mematikan 7 Oktober yang menewaskan ribuan warga Israel, negeri itu tampaknya belum benar-benar berubah. Perdana Menteri Benjam
Tiga tahun setelah serangan mematikan 7 Oktober yang menewaskan ribuan warga Israel, negeri itu tampaknya belum benar-benar berubah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu masih berkuasa, kabinetnya masih didominasi sayap kanan, dan gagasan soal masa depan bangsa Palestina praktis tidak mengalami pergeseran radikal. Pertanyaan besar yang menggantung: apakah Israel masih sama seperti sebelum 7 Oktober, atau justru perlahan berjalan ke arah yang tidak pernah dibayangkan siapa pun?
Ironisnya, prediksi para analis politik pada 2023 justru sebaliknya. Di tengah kesedihan dan kemarahan publik atas hari paling berdarah dalam sejarah negara itu, banyak pengamat meramalkan cepatnya kejatuhan perdana menteri sayap kanan tersebut. Namun realitas politik berkata lain. Netanyahu bertahan, bahkan memasuki pemilu dengan peluang yang tidak bisa diremehkan.
Tiga Tahun Tanpa Pertanggungjawaban
- Kegagalan keamanan belum diusut tuntas. Israel sampai hari ini belum benar-benar menghadapi rekam jejak kegagalan pertahanan pada 7 Oktober 2023, saat militan Hamas menembus pagar perbatasan dan melakukan serangan berdarah.
- Akar masalah serangan diabaikan. Akar pemicu serangan berbasis teror yang dipimpin Hamas itu belum diperiksa secara mendalam oleh elit politik Israel.
- Perang balas dendam berikutnya belum dievaluasi. Perang brutal yang menyusul serangan itu masih menjadi pertanyaan terbuka, termasuk dampak kemanusiaan dan strategi militer yang dijalankan.
- Netanyahu tetap di puncak kekuasaan. Pemimpin Partai Likud itu masih menjabat sebagai perdana menteri dengan peluang wajar untuk terpilih kembali.
Menurut jadwal yang beredar, pemilihan umum dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober. Bila Netanyahu akhirnya tersingkir dari kursi kekuasaan, sorotan publik beralih kepada siapa penggantinya. Masalahnya, rival politik paling seriusnya tidak benar-benar menawarkan perubahan radikal terkait kebijakan terhadap warga Palestina. Artinya, apapun hasil pemilu, kebijakan dasar Israel tampaknya akan tetap berada di jalur yang sama.
Analisis: Negara yang Menolak Berubah
Pola ini menunjukkan sebuah dinamika politik yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Negara yang mengalami trauma kolektif besar biasanya melakukan introspeksi keras. Namun dalam kasus Israel, krisis justru tampak memperkuat status quo. Sejumlah analis politik menilai bahwa trauma 7 Oktober tidak menghasilkan koreksi strategi nasional, melainkan justru mengunci pilihan politik ke dalam pendekatan keamanan yang keras.
| Aspek | Harapan Awal 2023 | Kondisi 2026 |
|---|---|---|
| Posisi Netanyahu | Diprediksi cepat jatuh | Masih berkuasa, punya peluang menang |
| Usut kegagalan 7 Okt | Penyelidikan menyeluruh | Belum dituntaskan |
| Kebijakan Palestina | Potensi perubahan arah | Rival pun tidak menawarkan perubahan radikal |
| Waktu pemilu | Tak terjadwal jelas | 27 Oktober |
Situasi ini juga menyoroti kematangan demokrasi Israel pasca-krisis. Pemilih nampaknya tidak menjadikan kegagalan keamanan sebagai alasan tunggal untuk mengganti pemimpin. Sebaliknya, isu-isu lain seperti ekonomi, identitas nasional, dan rasa aman jangka panjang lebih menentukan pilihan di kotak suara.
"Israel setelah 7 Oktober tampak lebih mirip dengan Israel sebelum 7 Oktober daripada yang dibayangkan banyak orang," begitu kesan yang muncul dari sejumlah pengamat politik regional.
Apa Artinya bagi Masa Depan
Meski demikian, bukan berarti tidak ada peluang perubahan. Pemilu 27 Oktober bisa menjadi momen koreksi, minimal dari sisi komposisi koalisi pemerintahan. Namun mengingat rival-rival utama Netanyahu tidak mengusung visi radikal soal Palestina, perubahan kebijakan besar kemungkinan akan berjalan lambat. Yang pasti, Israel kini berdiri di persimpangan: melanjutkan jalur yang sama, atau akhirnya berani membuka lembaran baru setelah tragedi terburuk dalam sejarahnya. Pilihan itu, untuk saat ini, sepenuhnya berada di tangan pemilihnya sendiri.
Comments (0)