Pertunjukan "The Visit" di Pasadena Playhouse Hadir dengan Dua Bintang Tony
Pasadena Playhouse, panggung legendaris di San Gabriel Valley, kembali menjadi sorotan dunia teater Amerika Serikat. Setelah kesuuberan luar biasa dari rev
Pasadena Playhouse, panggung legendaris di San Gabriel Valley, kembali menjadi sorotan dunia teater Amerika Serikat. Setelah kesuuberan luar biasa dari revival "Amadeus" pada Februari lalu, kini venue bersejarah itu menghadirkan "The Visit", komedi absurdist karya era 1950-an yang menuai ulasan beragam dari kritikus. Namun di tengah kekontroversian naskahnya, dua nama besar berhasil mencuri perhatian: Jefferson Mays dan Melinda Page Hamilton, sama-sama pemenang Tony Awards.
Naskah Klasik yang Tetap Relevan
"The Visit" pertama kali dipentaskan pada 1956, mengisahkan seorang miliarder perempuan yang kembali ke kampung halamannya dan menawarkan kekayaan luar biasa kepada warga, dengan satu syarat brutal. Premis ini memang gelap sejak awal, namun justru itu yang membuatnya abadi. Kritikus menyebut naskah ini terlalu "smug" atau sombong dalam menyajikan pandangan suram tentang sifat manusia yang mudah tergoda materi.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa daya tarik utama pertunjukan ini terletak pada akting. Jefferson Mays, yang dikenal lewat perannya dalam "A Gentleman's Guide to Love and Murder", menunjukkan mengapa ia layak menyandang gelar Tony. Sementara itu, Melinda Page Hamilton memberikan penampilan yang emosional dan kuat, membuat penonton terpaku sepanjang pertunjukan.
"Kedua aktor ini benar-benar membuat perjalanan menonton 'The Visit' menjadi berharga, meski naskahnya terasa terlalu keras kepala dalam menyampaikan pesannya," ujar seorang kritikus teater setempat.
Kekuatan dan Kelemahan Pertunjukan
Pasadena Playhouse punya reputasi panjang dalam menghadirkan produksi berkualitas, dan "The Visit" tidak jatuh dari standar tersebut. Secara visual, set panggung berhasil membangun atmosfer kota kecil yang muram namun penuh ambisi. Arah seni pertunjukan ini mempertahankan nuansa era 1950-an tanpa terasa kuno.
Namun di sisi lain, beberapa penonton merasa bahwa pesan moral cerita terlalu didaktik. Komedi absurdist memang sengaja memancing ketidaknyamanan, tapi beberapa adegan terasa terlalu percaya diri dengan kegelapannya sendiri. Ini yang membuat ulasan terbelah: ada yang memujinya sebagai karya brilian, ada pula yang merasa naskahnya terlalu sombong.
Mengapa Pertunjukan Ini Layak Dihatiri
Terlepas dari pro-kontra seputar naskah, alasan terbesar untuk datang ke Pasadena Playhouse kali ini jelas: akting kelas dunia. Kombinasi Mays dan Hamilton bukan sekadar nama besar untuk menarik tiket, melainkan pasangan seniman yang benar-benar menghidupkan karakter-karakter rumit dalam "The Visit".
Bagi pecinta teater di Los Angeles, ini adalah kesempatan langka menyaksikan dua pemenang Tony tampil di panggung yang sama. Warisan "Amadeus" masih terasa, dan "The Visit" tampaknya ingin melanjutkan tren kualitas tersebut. Pertunjukan ini berjalan untuk waktu terbatas, sehingga mereka yang penasaran sebaiknya tidak menunda terlalu lama.
Apakah naskahnya sempurna? Mungkin tidak. Tapi apakah pertunjukan ini memberikan pengalaman teater yang tak terlupakan? Jawabannya sangat mungkin ya, berkat duet luar biasa di jantung produksi ini.
Comments (0)