Ayah Diminta Tes DNA demi Paspor Putrinya Usai Aturan Brexit
Seorang ayah warga negara Inggris terpaksa menghadapi permintaan tes DNA demi mendapatkan paspor bagi putrinya yang masih remaja, dampak langsung dari atur
Seorang ayah warga negara Inggris terpaksa menghadapi permintaan tes DNA demi mendapatkan paspor bagi putrinya yang masih remaja, dampak langsung dari aturan baru Brexit yang memperketat syarat masuk ke Inggris bagi pemegang kewarganegaraan ganda.
Kisah ini bermula dari keluarga yang tinggal di Prancis. Sang ayah merupakan warga negara Inggris, sementara istrinya berkewarganegaraan Prancis. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai tiga orang anak. Dua anak tertua mereka telah memegang dua paspor sekaligus, yakni paspor Prancis dan paspor Inggris. Namun, anak ketiga lahir saat keluarga tersebut masih tinggal di Zimbabwe. Akibatnya, anak bungsu itu hanya memegang paspor Prancis dan tidak memiliki dokumen kewarganegaraan Inggris.
Aturan Baru Brexit Ubah Total Lanskap Perjalanan
Sejak berlakunya aturan pasca-Brexit, warga negara dengan kewarganegaraan ganda tidak lagi bisa masuk ke Inggris hanya dengan menunjukkan paspor negara lain. Mereka wajib memegang paspor Inggris yang sah. Ketentuan ini menciptakan masalah besar bagi keluarga lintas negara seperti keluarga sang ayah, karena anak bungsu mereka kini tidak dapat bepergian ke Inggris untuk mengunjungi kakek dan neneknya.
Yang lebih memberatkan, proses pengajuan paspor Inggris untuk anak tersebut tidak berjalan mulus. Pihak berwenang Inggris dilaporkan meminta sang ayah menjalani tes DNA sebagai bukti hubungan biologis dengan putrinya. Permintaan ini muncul karena kelahiran anak tersebut terjadi di Zimbabwe, sehingga dokumen kelahiran dan catatan sipilnya dinilai tidak cukup untuk membuktikan garis keturunan secara langsung.
"Ini bukan sekadar soal administrasi. Ini soal keluarga yang terpisah oleh tembok birokrasi yang tidak masuk akal," ujar seorang pengamat imigrasi Inggris yang mengamati kasus serupa.
Kronologi Masalah yang Dihadapi Keluarga
- Lahir di Zimbabwe: Anak ketiga lahir saat keluarga tinggal di Zimbabwe dan hanya memperoleh paspor Prancis.
- Brexit berlaku: Aturan baru mensyaratkan paspor Inggris bagi warga negara ganda yang ingin masuk ke Inggris.
- Pengajuan paspor ditolak sementara: Otoritas Inggris menilai dokumen kelahiran tidak cukup sebagai bukti kewarganegaraan.
- Permintaan tes DNA: Sang ayah diminta membuktikan hubungan biologis dengan putrinya melalui tes DNA demi melengkapi syarat paspor.
- Akses ke kakek-nenek terputus: Putrinya tidak bisa mengunjungi kakek dan neneknya di Inggris selama paspor belum terbit.
Perbandingan Syarat Paspor Sebelum dan Sesudah Brexit
| Aspek | Sebelum Brexit | Setelah Brexit |
|---|---|---|
| Warga negara ganda | Bisa masuk dengan paspor UE atau paspor negara lain | Wajib memegang paspor Inggris |
| Anak lahir di luar negeri | Dokumen kelahiran umumnya cukup | Bisa diminta tes DNA sebagai bukti tambahan |
| Akses ke Inggris | Relatif bebas untuk keluarga campuran | Dibatasi oleh syarat dokumen ketat |
| Dampak pada keluarga | Minim hambatan | Berpotensi memisahkan keluarga secara fisik |
Kasus ini menyoroti sisi lain dari kebijakan Brexit yang sering dibahas dalam konteks ekonomi dan perdagangan, namun jarang dilihat dampaknya pada keluarga biasa. Permintaan tes DNA demi mendapatkan paspor dinilai sejumlah pihak sebagai langkah yang berlebihan, terutama ketika hubungan biologis sudah jelas secara hukum dan sosial. Sang ayah, yang telah menjadi warga negara Inggris seumur hidup, kini harus membuktikan identitasnya sendiri di hadapan negaranya demi mengizinkan putrinya melihat kakek dan neneknya.
Dampak Lebih Luas bagi Keluarga Lintas Negara
Pengacara imigrasi memperkirakan akan ada banyak kasus serupa muncul ke permukaan. Keluarga dengan latar belakang campuran, terutama mereka yang pernah tinggal di negara ketiga saat anak lahir, berisiko menghadapi permintaan dokumen tambahan yang rumit dan mahal. Proses tes DNA sendiri memakan biaya tidak sedikit dan bisa memperlambat penerbitan paspor hingga berbulan-bulan.
Bagi sang ayah, yang paling menyakitkan bukanlah biaya atau prosedurnya, melainkan kenyataan bahwa putrinya tidak bisa bertemu kakek dan neneknya. "Aturan ini seharusnya melindungi warga negara, bukan menghalangi mereka dari keluarganya sendiri," komentar seorang aktivis hak keluarga lintas negara. Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kebijakan imigrasi, selalu ada manusia dengan kisah dan ikatan keluarga yang dipertaruhkan.
Comments (0)