Prancis Perketat Aturan Ponsel Saat Sekolah Dimulai

Paris — Musim kembali ke sekolah di Prancis tahun ini menandai babak baru dalam pengelolaan teknologi di lingkungan pendidikan. Pemerintah Prancis resmi me

Prancis Perketat Aturan Ponsel Saat Sekolah Dimulai

Paris — Musim kembali ke sekolah di Prancis tahun ini menandai babak baru dalam pengelolaan teknologi di lingkungan pendidikan. Pemerintah Prancis resmi memberlakukan aturan paling ketat yang pernah ada mengenai penggunaan ponsel. Mulai awal September 2025, seluruh siswa dilarang membawa ponsel aktif ke dalam area sekolah, termasuk halaman, kantin, dan lorong. Kebijakan ini merupakan perluasan drastis dari larangan tahun 2018 yang hanya berlaku di dalam kelas.

Menurut Menteri Pendidikan Nasional Prancis, langkah ini dirancang untuk mengurangi paparan layar yang berlebihan, menekan angka perundungan siber, serta meningkatkan interaksi sosial dan fisik di kalangan pelajar. Sejumlah sekolah elite di Paris bahkan telah menerapkan sistem loker penyimpanan ponsel wajib sejak tahun lalu, yang terbukti menurunkan konflik antar siswa hingga 30%.

Data dari Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa 65% siswa sekolah menengah pertama di Prancis memiliki ponsel pintar, dengan rata-rata pemakaian 3-4 jam per hari di luar jam sekolah. Survei terbaru mengungkapkan bahwa 78% guru mendukung perluasan larangan ini, sementara 45% orang tua menyatakan kekhawatiran tentang akses darurat. Untuk mengatasi hal itu, sekolah akan menyediakan telepon umum dan sistem pesan darurat.

"Kami ingin menciptakan lingkungan belajar yang bebas gangguan. Ponsel adalah pengalih perhatian utama, dan kebijakan ini adalah langkah berani untuk memulihkan kesehatan sosial dan akademik siswa," kata seorang juru bicara Kementerian Pendidikan Prancis.

Prancis tidak sendiri. Finlandia dan Belanda telah menerapkan larangan serupa sejak 2024. Inggris juga sedang mempertimbangkan kebijakan serupa setelah laporan menunjukkan satu dari lima siswa mengalami gangguan konsentrasi akibat notifikasi selama pelajaran.

Oposisi Pusat Data Mengancam Ekspansi AI Global

Di luar dunia pendidikan, gelombang oposisi lokal terhadap pembangunan pusat data mulai menjadi hambatan serius bagi revolusi kecerdasan buatan (AI). Di Prancis, rencana pembangunan pusat data seluas 20 hektar di wilayah Brittany ditolak oleh dewan kota karena protes warga yang khawatir akan penggunaan air tanah berlebihan. Di Oregon, Amerika Serikat, proyek senilai $2 miliar dari salah satu raksasa teknologi dihentikan sementara setelah gugatan warga.

Data dari International Energy Agency (IEA) memproyeksikan konsumsi listrik pusat data global akan berlipat ganda pada tahun 2026, mencapai 1.000 terawatt-jam per tahun—setara dengan konsumsi listrik seluruh Jepang. Para aktivis lingkungan menyebut pusat data sebagai "pabrik air", karena rata-rata satu pusat data besar menghabiskan 11 juta liter air per hari untuk pendinginan server. Di tengah krisis iklim dan kekeringan di Eropa, isu ini menjadi sangat sensitif.

Meskipun perusahaan besar seperti Google dan Microsoft berjanji menggunakan energi terbarukan, oposisi lokal terus menguat. Di Belanda, pemerintah bahkan menerapkan moratorium pembangunan pusat data baru selama satu tahun. Revolusi AI yang dijanjikan oleh para CEO teknologi kini dihadapkan pada realitas pahit: infrastruktur fisiknya ditolak oleh komunitas lokal. Di Irlandia, warga setempat memblokir akses truk konstruksi ke lokasi pusat data baru, sementara di Jerman beberapa proyek diubah lokasinya setelah protes keras.

Leo Messi Pensiun: Akhir dari Era Emas Argentina

Buenos Aires — Kabar mengejutkan datang dari dunia sepak bola. Lionel Messi, megabintang Argentina, kembali mengumumkan pensiun dari tim nasional. Dalam konferensi pers yang penuh emosi, Messi menyatakan bahwa inilah saat yang tepat untuk memberi kesempatan generasi muda. Keputusan ini memicu gelombang duka di Argentina. Ribuan fans berkumpul di Obelisco Buenos Aires untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang kapten.

Messi meninggalkan warisan statistik yang luar biasa: 112 gol dalam 172 pertandingan internasional, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa Argentina. Ia juga memimpin tim meraih Piala Dunia 2022 di Qatar, trofi yang dinanti selama 36 tahun. Namun, tekanan ekspektasi yang sangat besar dianggap sebagai faktor utama keputusannya. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, menyatakan akan menghormati keputusan tersebut dan mulai mencari suksesor. Julian Alvarez, Lautaro Martinez, dan Paulo Dybala diharapkan mengisi kekosongan di lini depan.

"Messi adalah jiwa Argentina. Tidak ada yang bisa menggantikannya sepenuhnya, tapi kami harus terus maju," ujar Scaloni dalam wawancara dengan media lokal.

Fenomena Sepak Bola di Sungai Inggris Viral

Dari sisi hiburan, sebuah video yang memperlihatkan sekelompok pria bermain sepak bola di tengah sungai di Inggris menjadi viral di media sosial. Dengan air setinggi betis, mereka menjadikan dasar sungai sebagai lapangan. Meskipun tampak seru, kepolisian setempat mengeluarkan peringatan keras. Arus bawah tanah dan suhu air dingin dapat menyebabkan hipotermia atau kecelakaan serius. Video ini telah ditonton lebih dari 5 juta kali dalam sepekan, memicu perdebatan antara kreativitas dan keselamatan.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa kegilaan sepak bola bisa menginspirasi tindakan kreatif—atau nekat—di berbagai penjuru dunia. Sebelumnya, fenomena serupa pernah terjadi di Belanda saat sekelompok pemain sepak bola jalanan bermain di kanal yang membeku.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User