Mladić Wafat di Den Haag, Rencana Pemakaman Kenegaraan Serbia Picu Kontroversi
Ratko Mladić, mantan jenderal Serbia yang dijatuhi hukuman seumur hidup atas kejahatan genosida, menghembuskan napas terakhirnya pada usia 84 tahun di dala
Ratko Mladić, mantan jenderal Serbia yang dijatuhi hukuman seumur hidup atas kejahatan genosida, menghembuskan napas terakhirnya pada usia 84 tahun di dalam sel penjara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Den Haag, Belanda. Kepergiannya yang tenang di balik jeruji besi justru membuka kembali luka lama di kawasan Balkan: sebuah rencana pemakaman dengan kehormatan kenegaraan yang diajukan pemerintah Serbia langsung memantik perpecahan tajam di tengah masyarakat, antara mereka yang menganggapnya pahlawan dan mereka yang menyebutnya algojo.
Kabar kematian komandan yang dijuluki "Tukang Jagal Balkan" itu menyebar cepat dan memicu reaksi berlapis, mulai dari duka mendalam para simpatisan ultranasionalis hingga kecaman pedas keluarga korban di Bosnia-Herzegovina. Bagi banyak orang Serbia, Mladić adalah simbol perjuangan mempertahankan wilayah dari konflik yang merobek Yugoslavia pada 1990-an. Namun bagi ribuan keluarga yang kehilangan orang tercinta, ia adalah wajah dari penderitaan yang tak pernah bisa dimaafkan.
Dua Dosa Besar yang Mengantar Mladić ke Kursi Pesakitan
Mladić dihukum oleh Pengadilan Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) pada November 2017 atas sejumlah kejahatan kemanusiaan paling brutal dalam sejarah Eropa modern. Dua dakwaan utamanya yang paling dikenang dunia adalah pengepungan Sarajevo dan pembantaian Srebrenica. Selama hampir 1.400 hari kota Sarajevo dikepung, ribuan warga sipil tewas akibat tembakan penembak jitu dan granat yang menghujani pasar, sekolah, serta rumah sakit.
Puncak kekejamannya terjadi pada Juli 1995, ketika pasukan di bawah komandonya membantai lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosniak di Srebrenica. Peristiwa ini diakui Mahkamah Internasional sebagai genosida — pembantaian terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II. Para hakim ICTY menyebut keterlibatan Mladić dalam aksi tersebut bersifat langsung dan sistematis, sehingga vonis seumur hidup dianggap sebagai hukuman yang setimpal.
Pemakaman Kenegaraan: Penghormatan atau Provokasi?
Kontroversi terbesar kini berpusat pada wacana pemakaman resmi dengan atribut kenegaraan. Sebagian kalangan di Serbia berpandangan bahwa penghormatan terakhir itu adalah hak setiap warga negara yang pernah mengabdi. Namun, langkah tersebut dikecam keras oleh komunitas internasional dan organisasi korban, yang menilai bahwa memberi kehormatan negara kepada seorang terpidana genosida sama saja dengan merendahkan derajat 8.000 korban Srebrenica.
"Memberi penghormatan kenegaraan kepada seseorang yang dijatuhi hukuman atas genosida adalah penghinaan terhadap para korban dan keluarganya," ujar seorang juru bicara organisasi korban Srebrenica. "Bagi kami, ia bukan pahlawan. Ia adalah orang yang merampas ayah, suami, dan anak-anak kami."
Di sisi lain, kelompok nasionalis Serbia justru berencana menggelar prosesi besar-besaran dan menjadikan momen ini sebagai ajang unjuk kekuatan politik. Ketegangan semacam ini bukan hal baru: sejak vonis dijatuhkan, dukungan publik terhadap Mladić di sebagian wilayah Serbia dan Republika Srpska tetap tinggi, dan sosoknya kerap dirayakan dalam mural, lagu, hingga atribut olahraga.
Perbandingan Respons: Duka Simpatisan vs Kecaman Dunia
| Kelompok | Sikap terhadap Kematian Mladić |
|---|---|
| Nasionalis Serbia & Republika Srpska | Berkabung, menuntut pemakaman kenegaraan |
| Keluarga korban Srebrenica | Mengecam, menolak segala bentuk penghormatan |
| Komunitas internasional | Mengingatkan pentingnya rekonsiliasi dan keadilan |
| Pemerintah Bosnia-Herzegovina | Mengutuk rencana pemakaman kenegaraan |
Warisan Sejarah yang Masih Menganga
Kematian Mladić menutup satu babak panjang peradilan internasional, namun tidak otomatis menutup luka sosial yang ditinggalkannya. Para ahli menilai bahwa perdebatan seputar pemakamannya adalah cermin dari kegagalan proses rekonsiliasi yang belum tuntas di Balkan tiga dekade setelah perang berakhir. Selama narasi sejarah masih diperebutkan, selama itu pula potensi konflik laten akan terus mengintai.
Yang menjadi pertanyaan besar kini bukan lagi bagaimana Mladić mengakhiri hidupnya, melainkan bagaimana Serbia dan Bosnia memilih untuk mengingatnya. Apakah ia akan dikenang sebagai prajurit atau penjahat perang? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah masa depan hubungan kedua negara yang sama-sama masih membawa bekas luka.
Comments (0)